Senin, 05 Februari 2018

2. "Baik Tuanku" - Kisah Abraham dan Sara

Tuhan berkata pada Hawa, "namun engkau akan berahi pada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu" (Kej 3:16). Itu merupakan bagian dari beban dosa yang ditanggung wanita, dan hubungan suami istri berikutnya dalam Alkitab menggambarkan tunduknya istri atas perintah suami. Sarah dua kali dipuji oleh penulis Alkitab, yang pertama karena imannya (Ibrani 11:11) dan untuk ketaatannya pada suami (1 Pet 3:5-6). Rasul Paulus lebih jauh berkata dia "begitu taat pada Abraham, sehingga memanggilnya tuan."

Kami tidak bermaksud meminta para istri memanggil suaminya "tuan", apalagi dalam budaya kita tapi eksperesi Sara merupakan cara menunjukkan sikap tunduk. Aneh kalau melihat 2 prinsip ini, IMAN dan TAAT, sebenarnya berjalan bersama. Ketaatan bagi para istri pada dasarnya iman yang Tuhan kerjakan melalui suaminya untuk mencapai apa yang terbaik bagi istri. Dan itulah kisah kehidupan Sarah dengan Abraham.

Melihat saat awal benih iman. Kisah dimulai dari kota Ur, kota metropolis dekat garis pantai teluk Persia. Setidaknya satu orang menolak dosa penyembahan berhala di Ur, karena dia mengenal Tuhan yang benar dan hidup. Kenyataannya, Tuhan telah berbicara padanya : "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej 12:1-3). Bersenjata janji itu, Abraham mengambil resiko, dengan ayahnya Terah, sepupunya Lot, dan istrinya Sara, memulai perjalanan panjang ke utara di sekitar daerah subur ke kota Haran.

Pindahan tidaklah menyenangkan, terutama saat anda pindahan dengan unta atau keledai, dan juga saat anda tidak tahu kemana anda akan pergi!" "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui" (Ibrani 11:8). Hali itu mungkin lebih berat bagi wanita daripada pria. Sara tidak disebutkan dalam ayat itu, tapi imannya ada di situ, setiap titik setegar Abraham. Dia percaya Tuhan akan menopangnya melalui perjalanan ini dan menunjukkan  kepada suaminya tempat yang telah dipilihkan bagi mereka.

Sara bukan wanita yang lemah, terlalu bergantung, dan berpikiran kosong. Orang tuanya memanggilnya Sarai, dan nama memiliki arti dalam dunia Alkitab. Namanya berarti "ratu". Itu mungkin menggambarkan keindahannya, yang ditulis dua kali (Kej 12: 11,14). Itu mungkin menggambarkan juga pendidikannya yang tinggi, pembawaanya yang tenang dan perilakunya yang anggun. Saat Tuhan mengganti namanya ke Sara, artinya tidak berubah tapi lebih menambah arti keibuan. Dia dipanggil dalam konteks "ibu bangsa-bangsa" (Kej 17: 15-16).

Sara seorang wanita yang pintar dan punya kemampuan. Tapi saat dia menikah dengan Abraham, dia membuat keputusan. Dia membangun tujuan hidupnya dalam tugasnya membantu suami memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan kelemahan. Itu merupakan kehendak Tuhan dalam hidup Sara: ketaatan yang benar. Sebagian istri secara sistematik telah menyabotase rencana Tuhan bagi suami mereka karena mereka tidak ingin percaya Tuhan dan mempercayakan diri mereka pada hikmatNya. Mereka hanya tidak percaya Tuhan bekerja melalui suami mereka untuk mencapai apa yang terbaik baginya. Mereka merasa harus menolong Tuhan melalui dominasi mereka atas suami.

Kelihatan kalau ayah Abraham menolak untuk meneruskan perjalanan saat mereka mencapai Haran. Dia seorang penyembah berhala (Yos 24:2), dan kota Haran pas baginya untuk menikmati sisa harinya. Dia menunda tujuan Tuhan bagi Abraham, tapi dia tidak bisa menghancurkan seluruhnya. Saat Terah meninggal, Abraham berumur 75 tahun, pergi dari Haran ke tanah yang Tuhan janjikan padanya (Kej 12:4). Itu merupakan perpindahan kedua ketempat yang tidak dikenal, tapi dengan adanya Sara disisinya, wanita yang tunduk dan beriman (Kej 12:5). Hari-hari didepan akan menunjukkan ketaatan dan imannya dengan sangat diuji.

Mari kita menyelidiki, kedua, pergumulan iman. Iman cepat bertumbuh dalam pergumulan. Orang yang berdoa pada Tuhan untuk melenyapkan masalahnya mungkin dipertanyakan kehidupan rohaninya. Kadang iman kita ditekan, tapi jika kita mengakui kegagalan dan menerima pengampunan Tuhan, kegagalan itu bisa menumbuhkan kerohanian kita. Abraham dan Sara dipuji atas iman mereka dalam Alkitab, tapi kegagalan mereka juga ditulis sebagai nasihat dan penghiburan.

Serangan pertama datang saat mereka masuk Kanaan. Ada bencana didaerah itu dan Abraham memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sudah Tuhan janjikan padanya dan pergi ke mesir (Kej 12:10). Mungkin dia sudah berkonsultasi dengan Sara, dan dia sudah menunjukkan kebodohan keputusannya, tapi seperti kebanyakan pria, dia tetap menjalankan rencananya tanpa mempertimbangkan kesulitan yang didatangkan bagi sang istri.Terlalu banyak pria yang menolak meminta nasihat istri. Mereka pikir kepemimpinan memberikan mereka hak khusus , lakukan apapun yang mereka mau tanpa membicarakannya dengan istri dan kemudian menyetujuinya bersama. Mereka takut istri bisa menemukan cela dalam pemikiran mereka atau membuka keegoisan pikiran pendek mereka. Jadi mereka terus menjalankan rencana mereka dan seluruh keluarga menderita karena itu.

Saat mereka didekat Mesir, Abraham berkata pada istrinya, "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau" (Kej 12:11-13). Itu merupakan pujian bagi keindahan Sara di usia 65 tahun tetap menarik sehingga Abraham berpikir orang Mesir bisa mencoba membunuhnya karena Sara. Dan keindahannya tidak hanya dimata Abraham. "Sesudah Abraham masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya" (Kej 12: 14-15). Walau Abraham berpikir orang Mesir bisa membunuhnya untuk mendapatkan istrinya, dia yakin mereka akan memperlakukannya dengan terhormat jika mereka berpikir kalau dia adiknya. Dan itu benar. Mereka memberikannya banyak binatang dan pelayan untuk itu (Kej 12:16). Memang, Sara adalah saudara Abraham, saudara tiri (Kej 20:12). Pernikahan seperti itu tidak lazim dimasa itu. Tapi yang mereka katakan pada Firaun hanya setengah kebenaran, dan setengah kebenaran lagi kebohongan pada Tuhan. Dia tidak menghargai dosa.

Kenapa Sara mau mengikuti rencana ini? Bukankah dalam hal ini ketaatan pada Tuhan melebihi ketaatan pada suami? Saya juga setuju. Seorang istri tidak bertanggung jawab taat pada suami saat ketaatan yang diminta berlawanan dengan kehendak Tuhan (Kis 5:29). Sara bisa saja menolak. Tapi itu menunjukkan kedalaman iman dan ketaatannya yang sebenarnya. Sara percaya janji Tuhan kalau Abraham akan menjadi bapa suatu bangsa yang besar. Karena disana belum ada anak, dia bisa dibelanjakan, tapi Abraham harus hidup dan memiliki anak walau itu dari wanita lain.

Dia juga percaya bahwa Tuhan akan campur tangan dan menyelamatkan dia sebelum tindakan tidak bermoral terjadi. Itu bisa terjadi melihat besarnya piaraan Firaun, Dia juga percaya Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan suaminya dan menyelamatkan mereka dari kuasa Firaun. Dan karena dia percaya, dia tunduk. Tuhan bisa melindungi mereka dari keegoisan rencana Abraham, tapi iman Sara  pada Tuhan dan ketaatan pada suaminya tetap dengan indah digambarkan dalam cerita PL. Ujian sebenarnya dari ketaatan istri saat dia tahu suaminya membuat kesalahan.

Sulit dibayangkan seorang manusia melakukan hal rendah seperti yang dilakukan Abraham (Kejadian 12 : 18-20). Dia gagal terhadap Sara, menyedihkan, tapi Tuhan setia padanya. Dia menghargai imannya dan menyelamatkannya. Dia tidak pernah mengabaikan mereka yang percaya padaNya. Anda mungkin berpikir kalau pelajaran dari Tuhan ini kana mendalam dirasa dalam jiwa Abraham setelah ini sehingga dia melakukannya lagi. Sekitar 20 tahun kemudian dia melakukan hal yang persis sama dengan Abimelekh, Raja Gerar (Kej 20: 1-8). Ini menunjukkan betapa lemah dan kurang iamnnya. Mungkin ada beberapa dosa yang kita pikir tidak akan melakukannya lagi, tapi kita harus hati-hati, karena itulah cara iblis menyerang kita. Suatu hal yang mencengangkan kalau Sara tetap tunduk ketika hal ini terjadi, dan Tuhan kembali menyelamatkannya, bukti lain dari iman dan kesetiaan Tuhan.

Salah satu penekanan akan imannya dinyatakan dalam pernyataan "Adapun Sarai, istri Abram itu, tidak beranak" (Kej 16:1). Tuhan kemudian mengubah nama Abram ke Abraham, dari "bapa yang ditinggikan" menjadi "bapa orang banyak". Bagaimana dia bisa menjadi bapa orang banyak tanpa anak? Sekarang Saralah yang menjalankan rencananya. Dia menawarkan budak mesirnya, Hagar, sehingga Abraham bisa mendapat anak melaluinya. Kita harus mengakui kalau usulannya menunjukkan kepercayaannya kalau Tuhan akan setia pada perkataanNya memberikan Abraham seorang anak. Itu jelas motivasi oleh kasihnya pada Abraham dan keinginannya mendapat anak. Dan membagikan suami dengan wanita lain merupakan pengorbanan besar baginya. Tapi itu BUKAN CARA TUHAN. itu merupaka salah satu solusi kedagingan. Dan cara Tuhan selalu yang terbaik bahkan saat DIA menahan apa yang menurut kita, kita butuhkan saat itu.

Sangat sering tindakan kita menunda hal itu dan menjalankan menurut cara kita, akhirnya mengakibatkan kesulitan besar. Jika kita belajar untuk tetap mempercayai Dia saat situasi kita terlihat tidak cerah, kita menyelamatkan diri dari kecelakaan.

Dorongan dosa ini berdampak pada hubungan antara Abraham dan Sara. Hagar hamil dan menjadi sombong dan tidak bisa diatur. Sara menyalahkan Abraham karena hal itu yang sebenarnya idenya sendiri. Kemudian memperlakukan Hagar dengan kasar, dan hal itu menunjukkan kepahitan dan kekecewaan jiwanya. Sementara itu, Abraham mengelak dari tugas. Dia sejak awal seharusnya berkata "tidak" pada rencana berdosa Sarah. Tapi sekarang dia berkata supaya Sara menangani masalahnya sendiri, agar berhenti mengganggunya tentang hal ini (Kej 16:6)

Itu sangat sulit bagi istri untuk tunduk pada ubur-ubur, seorang pria yang menolak bertanggung jawab, mengabaikan penambilan keputusan, dan menghindar dari tanggung jawab. Tidak ada yang bisa ditaati, tidak ada kepemimpinan yang bisa diikuti. Seorang istri tidak bisa menolong suaminya memenuhi tujuan Tuhan bagi hidupnya saat istri tidak tahu apa tujuannya.

Bahkan manusia yang hebat dalam iman memiliki saat kegagalan. Dan tidak ada yang lebih buruk dari saat Abraham dan Sara menertawakan Tuhan. Mereka berdua melakukannya. Tuhan mengatakan pada Abraham kalau Sara akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa. Raja akan muncul dari dia. Abraham tertunduk dan tertawa, serta berkata, "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur semilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kej 17:17). Abraham mencoba membujuk Tuhan menerima Ismael sebagai ahli waris, tapi Tuhan berkata, "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya" (Kej 17:19).

Berikutnya giliran Sara, Tuhan menampakkan diri pada Abraham sebagai tamu ditendanya, dan Sara mendengar dia berkata "Sesungguhnya Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki" (Kej 18:10). Dia menguping dipintu tenda dan tertawa, berkata "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" (Kej 18:12). Tidak disengaja, inilah bagaimana Petrus bisa mengetahui dia memanggilnya "tuan". Ketaatan ada, tapi imannya goyang. Pergumulan iman nyata dan kita semua mengalaminya. Panah keraguan dari setan sering mengenai kita, dan kita sering meragukan kalau Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita.

Tapi terima kasih untuk akhir yang merupakan kemenangan iman, Saya percaya titik balik pergumulan iman mereka muncul selama pertemuan dengan Tuhan. "Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Abraham: Mengapakah Sara tertawa?". "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan?" (Kej 18:13-14). Tantangan ini menusuk hati mereka yang ragu, dan iman dibaharui, kuat dan kokoh. Ada kemunduran saat di Gerar (Kej 20 :1-8). Tapi pada dasarnya semuanya berbeda sejak saat itu.

Tentang Abraham, Rasul Paulus menulis "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakina, bahwa Allah berkuasa untuk melaksankan apa yang telah Ia janjikan" (Roma 4:19-21)

Tentang Sara, penulis Ibrani menyatakan, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia" (Ibr 11:11). Iman mereka diihargai; Sara mendapat anak dan menamainya Ishak, berarti "tertawa". Dan Sara mengatakan kenapa mereka menamakannnya seperti itu :"Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku" (Kej 21:6). Tertawa keraguannya menjadi tawa kemenangan, dan kita bisa membagi sukacita dengannya.

Tetap ada masalah dimasa depan bagi Abraham dan Sara. Kehidupan iman tidak pernah bebas dari hambatan. Hagar dan Ismael tetap mempermainkan Ishak. Dan Sara sangat marah karena itu. Saat dia melihat Ismael mempermainkan si kecil Ishak, dia kehilangan kendali. Dia menyerbu Abraham dan dengan marah menuntut, "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak" (Keja 21:10). Apakah ini wanita yang sama, yang ditinggikan di PB karena ketaatannya? Ya. Ketaatan yang sehat tidak menghalangi pernyataan pendapat. Itu biasanya ketaatan yang sakit, yang umumnya di motivasi oleh harga diri yang rendah ("pendapatku yang tidak berarti apa-apa"), oleh ketakutan akan keadaan yang tidak menyenangkan ("saya ingin kedamaian berapapun harganya"), atau oleh pengabaian tanggung jawab ("biarlah orang lain yang membuat keputusan; saya tidak ingin disalahkan").

Sara setidaknya mengatakan pikirannya. Dan, dia benar! Mengacaukan tidak benar. Tapi Ismael tidak akan menjadi pewaris bersama Ishak, dan Tuhan ingin dia pergi dari rumah. Tuhan berkata pada Abraham untuk mendengar Sara (Kej 21:12). Bayangkan itu --- walau Sara emosi, Tuhan ingin Abraham mendengar nasihatnya. Dia sering menggunakan istri untuk mengoreksi suaminya, menasihatinya, mendewasakannnya, menolong mengatasi masalah mereka dan memberikan mereka pengertian. Itulah gunanya penolong.

Sebagian suami sering tidak menganggap istrinya, pemikirannya dirasa menggelikan dan pendapatnya tidak bernilai. Suami yang melakukannya sanagat mengabaikan istri. Dia kehilangan hal terbaik Tuhan baginya. Jika istri mengatakan pada suami, ada masalah dalam pernikahan mereka, Tuhan ingin dia mendengarnya --- dengarkan penilaian situasinya, dengarkan perubahan yang istri pikir bisa buat, dengarkan saat dia mencoba membagikan perasaan dan kebutuhannya --- kemudian lakukan sesuatu yang membangun dari hal itu. Salah satu masalah dalam pernikahan Kristen masa kini adalah para suami terlalu sombong untuk mengakui ada yang salah dan terlalu keras kepala untuk melakuak sesuatu tentang hal itu. Tuhan mungkin ingin meneranginya melalui istri mereka.

Budak wanita dan anaknya akhirnya pergi. Ismael sudah cukup tua untuk menyediakan kebutuhan bagi ibunya, dan Tuhan memberikan dia keahlian memanah (Kej 21:20). Dan dengan perpindahannya, ketiga anggota keluarga ini menikamti waktu persekutuan yang indah. Tapi pencobaan yang paling berat belum datang. "Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham" (Kej 22:1). Itu merupakan ujian yang sangat tidak lazim. Tuhan berkata "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (Kej 22:2). Nama Sara tidak muncul dalam pasal ini dan kita jarang menyebut dan membahasnya. Tapi dia pasti tahu apa yang terjadi. Dia mungkin memolong mempersiapkan perjalanan itu. Dia melihat kayu, api, pisau; dia melihat Ishak, dan dia melihat Abraham, kerutan penderitaan batin terpancar didahi. Tapi dia tidak melihat hewan korban. Alkitab berkata bahwa Abraham percaya kalau Tuhan bisa membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr 19:19). Sara pasti percaya itu juga.

Dia menyaksikan mereka menghilang dari pandangan, dan walau hati keibuannya hancur, dia tidak protes. Itu mungkin penunjukan imannya pada Tuhan dan ketaatan pada kehendak suami yang terbesar. " Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai di tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman" (1 Pet 3:5-6). Seorang istri Kristen tidak perlu takut untuk taat saat harapannya ada dalam Tuhan. Dia pasti setia pada perkataanNya dan menggunakan ketaatannya untuk mencapai apa yang terbaik baginya.

Sara merupakan salah satu wanita yang dibicarakan Raja Lemuel, yang berlaku baik pada suaminya dan tidak jahat pada masa hidupnya (Ams 31:12). Seorang wanita hanya bisa jadi istri seperti itu saat dia percaya bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah, dan saat dia percaya Tuhan bisa menggunakan bahkan kesalahan suaminya untuk membawa kemuliaan bagi diriNya dan berkata bagi hidup mereka. Dan seorang pria bisa mendapat ketaatan istri seperti itu saat dia belajar mengikuti arahan Tuhan daripada mengejar tujuannya yang egois, Dia tahu kalau mereka tidak punya kemampuan untuk menjamin kedudukan kepemimpinannya. Itu hanya diberikan Tuhan. Jadi dia menerima kepercayaan itu dan melakukannya dalam ketaatan penuh pada Tuhan dan dengan tidak egois mempertimbangkan istrinya dan apa yang terbaik bagi istrinya.



Sumber : Bible.org




0 Yorum var: