Senin, 05 Februari 2018

2. "Baik Tuanku" - Kisah Abraham dan Sara

Tuhan berkata pada Hawa, "namun engkau akan berahi pada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu" (Kej 3:16). Itu merupakan bagian dari beban dosa yang ditanggung wanita, dan hubungan suami istri berikutnya dalam Alkitab menggambarkan tunduknya istri atas perintah suami. Sarah dua kali dipuji oleh penulis Alkitab, yang pertama karena imannya (Ibrani 11:11) dan untuk ketaatannya pada suami (1 Pet 3:5-6). Rasul Paulus lebih jauh berkata dia "begitu taat pada Abraham, sehingga memanggilnya tuan."

Kami tidak bermaksud meminta para istri memanggil suaminya "tuan", apalagi dalam budaya kita tapi eksperesi Sara merupakan cara menunjukkan sikap tunduk. Aneh kalau melihat 2 prinsip ini, IMAN dan TAAT, sebenarnya berjalan bersama. Ketaatan bagi para istri pada dasarnya iman yang Tuhan kerjakan melalui suaminya untuk mencapai apa yang terbaik bagi istri. Dan itulah kisah kehidupan Sarah dengan Abraham.

Melihat saat awal benih iman. Kisah dimulai dari kota Ur, kota metropolis dekat garis pantai teluk Persia. Setidaknya satu orang menolak dosa penyembahan berhala di Ur, karena dia mengenal Tuhan yang benar dan hidup. Kenyataannya, Tuhan telah berbicara padanya : "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej 12:1-3). Bersenjata janji itu, Abraham mengambil resiko, dengan ayahnya Terah, sepupunya Lot, dan istrinya Sara, memulai perjalanan panjang ke utara di sekitar daerah subur ke kota Haran.

Pindahan tidaklah menyenangkan, terutama saat anda pindahan dengan unta atau keledai, dan juga saat anda tidak tahu kemana anda akan pergi!" "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui" (Ibrani 11:8). Hali itu mungkin lebih berat bagi wanita daripada pria. Sara tidak disebutkan dalam ayat itu, tapi imannya ada di situ, setiap titik setegar Abraham. Dia percaya Tuhan akan menopangnya melalui perjalanan ini dan menunjukkan  kepada suaminya tempat yang telah dipilihkan bagi mereka.

Sara bukan wanita yang lemah, terlalu bergantung, dan berpikiran kosong. Orang tuanya memanggilnya Sarai, dan nama memiliki arti dalam dunia Alkitab. Namanya berarti "ratu". Itu mungkin menggambarkan keindahannya, yang ditulis dua kali (Kej 12: 11,14). Itu mungkin menggambarkan juga pendidikannya yang tinggi, pembawaanya yang tenang dan perilakunya yang anggun. Saat Tuhan mengganti namanya ke Sara, artinya tidak berubah tapi lebih menambah arti keibuan. Dia dipanggil dalam konteks "ibu bangsa-bangsa" (Kej 17: 15-16).

Sara seorang wanita yang pintar dan punya kemampuan. Tapi saat dia menikah dengan Abraham, dia membuat keputusan. Dia membangun tujuan hidupnya dalam tugasnya membantu suami memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan kelemahan. Itu merupakan kehendak Tuhan dalam hidup Sara: ketaatan yang benar. Sebagian istri secara sistematik telah menyabotase rencana Tuhan bagi suami mereka karena mereka tidak ingin percaya Tuhan dan mempercayakan diri mereka pada hikmatNya. Mereka hanya tidak percaya Tuhan bekerja melalui suami mereka untuk mencapai apa yang terbaik baginya. Mereka merasa harus menolong Tuhan melalui dominasi mereka atas suami.

Kelihatan kalau ayah Abraham menolak untuk meneruskan perjalanan saat mereka mencapai Haran. Dia seorang penyembah berhala (Yos 24:2), dan kota Haran pas baginya untuk menikmati sisa harinya. Dia menunda tujuan Tuhan bagi Abraham, tapi dia tidak bisa menghancurkan seluruhnya. Saat Terah meninggal, Abraham berumur 75 tahun, pergi dari Haran ke tanah yang Tuhan janjikan padanya (Kej 12:4). Itu merupakan perpindahan kedua ketempat yang tidak dikenal, tapi dengan adanya Sara disisinya, wanita yang tunduk dan beriman (Kej 12:5). Hari-hari didepan akan menunjukkan ketaatan dan imannya dengan sangat diuji.

Mari kita menyelidiki, kedua, pergumulan iman. Iman cepat bertumbuh dalam pergumulan. Orang yang berdoa pada Tuhan untuk melenyapkan masalahnya mungkin dipertanyakan kehidupan rohaninya. Kadang iman kita ditekan, tapi jika kita mengakui kegagalan dan menerima pengampunan Tuhan, kegagalan itu bisa menumbuhkan kerohanian kita. Abraham dan Sara dipuji atas iman mereka dalam Alkitab, tapi kegagalan mereka juga ditulis sebagai nasihat dan penghiburan.

Serangan pertama datang saat mereka masuk Kanaan. Ada bencana didaerah itu dan Abraham memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sudah Tuhan janjikan padanya dan pergi ke mesir (Kej 12:10). Mungkin dia sudah berkonsultasi dengan Sara, dan dia sudah menunjukkan kebodohan keputusannya, tapi seperti kebanyakan pria, dia tetap menjalankan rencananya tanpa mempertimbangkan kesulitan yang didatangkan bagi sang istri.Terlalu banyak pria yang menolak meminta nasihat istri. Mereka pikir kepemimpinan memberikan mereka hak khusus , lakukan apapun yang mereka mau tanpa membicarakannya dengan istri dan kemudian menyetujuinya bersama. Mereka takut istri bisa menemukan cela dalam pemikiran mereka atau membuka keegoisan pikiran pendek mereka. Jadi mereka terus menjalankan rencana mereka dan seluruh keluarga menderita karena itu.

Saat mereka didekat Mesir, Abraham berkata pada istrinya, "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau" (Kej 12:11-13). Itu merupakan pujian bagi keindahan Sara di usia 65 tahun tetap menarik sehingga Abraham berpikir orang Mesir bisa mencoba membunuhnya karena Sara. Dan keindahannya tidak hanya dimata Abraham. "Sesudah Abraham masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya" (Kej 12: 14-15). Walau Abraham berpikir orang Mesir bisa membunuhnya untuk mendapatkan istrinya, dia yakin mereka akan memperlakukannya dengan terhormat jika mereka berpikir kalau dia adiknya. Dan itu benar. Mereka memberikannya banyak binatang dan pelayan untuk itu (Kej 12:16). Memang, Sara adalah saudara Abraham, saudara tiri (Kej 20:12). Pernikahan seperti itu tidak lazim dimasa itu. Tapi yang mereka katakan pada Firaun hanya setengah kebenaran, dan setengah kebenaran lagi kebohongan pada Tuhan. Dia tidak menghargai dosa.

Kenapa Sara mau mengikuti rencana ini? Bukankah dalam hal ini ketaatan pada Tuhan melebihi ketaatan pada suami? Saya juga setuju. Seorang istri tidak bertanggung jawab taat pada suami saat ketaatan yang diminta berlawanan dengan kehendak Tuhan (Kis 5:29). Sara bisa saja menolak. Tapi itu menunjukkan kedalaman iman dan ketaatannya yang sebenarnya. Sara percaya janji Tuhan kalau Abraham akan menjadi bapa suatu bangsa yang besar. Karena disana belum ada anak, dia bisa dibelanjakan, tapi Abraham harus hidup dan memiliki anak walau itu dari wanita lain.

Dia juga percaya bahwa Tuhan akan campur tangan dan menyelamatkan dia sebelum tindakan tidak bermoral terjadi. Itu bisa terjadi melihat besarnya piaraan Firaun, Dia juga percaya Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan suaminya dan menyelamatkan mereka dari kuasa Firaun. Dan karena dia percaya, dia tunduk. Tuhan bisa melindungi mereka dari keegoisan rencana Abraham, tapi iman Sara  pada Tuhan dan ketaatan pada suaminya tetap dengan indah digambarkan dalam cerita PL. Ujian sebenarnya dari ketaatan istri saat dia tahu suaminya membuat kesalahan.

Sulit dibayangkan seorang manusia melakukan hal rendah seperti yang dilakukan Abraham (Kejadian 12 : 18-20). Dia gagal terhadap Sara, menyedihkan, tapi Tuhan setia padanya. Dia menghargai imannya dan menyelamatkannya. Dia tidak pernah mengabaikan mereka yang percaya padaNya. Anda mungkin berpikir kalau pelajaran dari Tuhan ini kana mendalam dirasa dalam jiwa Abraham setelah ini sehingga dia melakukannya lagi. Sekitar 20 tahun kemudian dia melakukan hal yang persis sama dengan Abimelekh, Raja Gerar (Kej 20: 1-8). Ini menunjukkan betapa lemah dan kurang iamnnya. Mungkin ada beberapa dosa yang kita pikir tidak akan melakukannya lagi, tapi kita harus hati-hati, karena itulah cara iblis menyerang kita. Suatu hal yang mencengangkan kalau Sara tetap tunduk ketika hal ini terjadi, dan Tuhan kembali menyelamatkannya, bukti lain dari iman dan kesetiaan Tuhan.

Salah satu penekanan akan imannya dinyatakan dalam pernyataan "Adapun Sarai, istri Abram itu, tidak beranak" (Kej 16:1). Tuhan kemudian mengubah nama Abram ke Abraham, dari "bapa yang ditinggikan" menjadi "bapa orang banyak". Bagaimana dia bisa menjadi bapa orang banyak tanpa anak? Sekarang Saralah yang menjalankan rencananya. Dia menawarkan budak mesirnya, Hagar, sehingga Abraham bisa mendapat anak melaluinya. Kita harus mengakui kalau usulannya menunjukkan kepercayaannya kalau Tuhan akan setia pada perkataanNya memberikan Abraham seorang anak. Itu jelas motivasi oleh kasihnya pada Abraham dan keinginannya mendapat anak. Dan membagikan suami dengan wanita lain merupakan pengorbanan besar baginya. Tapi itu BUKAN CARA TUHAN. itu merupaka salah satu solusi kedagingan. Dan cara Tuhan selalu yang terbaik bahkan saat DIA menahan apa yang menurut kita, kita butuhkan saat itu.

Sangat sering tindakan kita menunda hal itu dan menjalankan menurut cara kita, akhirnya mengakibatkan kesulitan besar. Jika kita belajar untuk tetap mempercayai Dia saat situasi kita terlihat tidak cerah, kita menyelamatkan diri dari kecelakaan.

Dorongan dosa ini berdampak pada hubungan antara Abraham dan Sara. Hagar hamil dan menjadi sombong dan tidak bisa diatur. Sara menyalahkan Abraham karena hal itu yang sebenarnya idenya sendiri. Kemudian memperlakukan Hagar dengan kasar, dan hal itu menunjukkan kepahitan dan kekecewaan jiwanya. Sementara itu, Abraham mengelak dari tugas. Dia sejak awal seharusnya berkata "tidak" pada rencana berdosa Sarah. Tapi sekarang dia berkata supaya Sara menangani masalahnya sendiri, agar berhenti mengganggunya tentang hal ini (Kej 16:6)

Itu sangat sulit bagi istri untuk tunduk pada ubur-ubur, seorang pria yang menolak bertanggung jawab, mengabaikan penambilan keputusan, dan menghindar dari tanggung jawab. Tidak ada yang bisa ditaati, tidak ada kepemimpinan yang bisa diikuti. Seorang istri tidak bisa menolong suaminya memenuhi tujuan Tuhan bagi hidupnya saat istri tidak tahu apa tujuannya.

Bahkan manusia yang hebat dalam iman memiliki saat kegagalan. Dan tidak ada yang lebih buruk dari saat Abraham dan Sara menertawakan Tuhan. Mereka berdua melakukannya. Tuhan mengatakan pada Abraham kalau Sara akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa. Raja akan muncul dari dia. Abraham tertunduk dan tertawa, serta berkata, "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur semilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kej 17:17). Abraham mencoba membujuk Tuhan menerima Ismael sebagai ahli waris, tapi Tuhan berkata, "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya" (Kej 17:19).

Berikutnya giliran Sara, Tuhan menampakkan diri pada Abraham sebagai tamu ditendanya, dan Sara mendengar dia berkata "Sesungguhnya Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki" (Kej 18:10). Dia menguping dipintu tenda dan tertawa, berkata "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" (Kej 18:12). Tidak disengaja, inilah bagaimana Petrus bisa mengetahui dia memanggilnya "tuan". Ketaatan ada, tapi imannya goyang. Pergumulan iman nyata dan kita semua mengalaminya. Panah keraguan dari setan sering mengenai kita, dan kita sering meragukan kalau Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita.

Tapi terima kasih untuk akhir yang merupakan kemenangan iman, Saya percaya titik balik pergumulan iman mereka muncul selama pertemuan dengan Tuhan. "Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Abraham: Mengapakah Sara tertawa?". "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan?" (Kej 18:13-14). Tantangan ini menusuk hati mereka yang ragu, dan iman dibaharui, kuat dan kokoh. Ada kemunduran saat di Gerar (Kej 20 :1-8). Tapi pada dasarnya semuanya berbeda sejak saat itu.

Tentang Abraham, Rasul Paulus menulis "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakina, bahwa Allah berkuasa untuk melaksankan apa yang telah Ia janjikan" (Roma 4:19-21)

Tentang Sara, penulis Ibrani menyatakan, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia" (Ibr 11:11). Iman mereka diihargai; Sara mendapat anak dan menamainya Ishak, berarti "tertawa". Dan Sara mengatakan kenapa mereka menamakannnya seperti itu :"Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku" (Kej 21:6). Tertawa keraguannya menjadi tawa kemenangan, dan kita bisa membagi sukacita dengannya.

Tetap ada masalah dimasa depan bagi Abraham dan Sara. Kehidupan iman tidak pernah bebas dari hambatan. Hagar dan Ismael tetap mempermainkan Ishak. Dan Sara sangat marah karena itu. Saat dia melihat Ismael mempermainkan si kecil Ishak, dia kehilangan kendali. Dia menyerbu Abraham dan dengan marah menuntut, "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak" (Keja 21:10). Apakah ini wanita yang sama, yang ditinggikan di PB karena ketaatannya? Ya. Ketaatan yang sehat tidak menghalangi pernyataan pendapat. Itu biasanya ketaatan yang sakit, yang umumnya di motivasi oleh harga diri yang rendah ("pendapatku yang tidak berarti apa-apa"), oleh ketakutan akan keadaan yang tidak menyenangkan ("saya ingin kedamaian berapapun harganya"), atau oleh pengabaian tanggung jawab ("biarlah orang lain yang membuat keputusan; saya tidak ingin disalahkan").

Sara setidaknya mengatakan pikirannya. Dan, dia benar! Mengacaukan tidak benar. Tapi Ismael tidak akan menjadi pewaris bersama Ishak, dan Tuhan ingin dia pergi dari rumah. Tuhan berkata pada Abraham untuk mendengar Sara (Kej 21:12). Bayangkan itu --- walau Sara emosi, Tuhan ingin Abraham mendengar nasihatnya. Dia sering menggunakan istri untuk mengoreksi suaminya, menasihatinya, mendewasakannnya, menolong mengatasi masalah mereka dan memberikan mereka pengertian. Itulah gunanya penolong.

Sebagian suami sering tidak menganggap istrinya, pemikirannya dirasa menggelikan dan pendapatnya tidak bernilai. Suami yang melakukannya sanagat mengabaikan istri. Dia kehilangan hal terbaik Tuhan baginya. Jika istri mengatakan pada suami, ada masalah dalam pernikahan mereka, Tuhan ingin dia mendengarnya --- dengarkan penilaian situasinya, dengarkan perubahan yang istri pikir bisa buat, dengarkan saat dia mencoba membagikan perasaan dan kebutuhannya --- kemudian lakukan sesuatu yang membangun dari hal itu. Salah satu masalah dalam pernikahan Kristen masa kini adalah para suami terlalu sombong untuk mengakui ada yang salah dan terlalu keras kepala untuk melakuak sesuatu tentang hal itu. Tuhan mungkin ingin meneranginya melalui istri mereka.

Budak wanita dan anaknya akhirnya pergi. Ismael sudah cukup tua untuk menyediakan kebutuhan bagi ibunya, dan Tuhan memberikan dia keahlian memanah (Kej 21:20). Dan dengan perpindahannya, ketiga anggota keluarga ini menikamti waktu persekutuan yang indah. Tapi pencobaan yang paling berat belum datang. "Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham" (Kej 22:1). Itu merupakan ujian yang sangat tidak lazim. Tuhan berkata "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (Kej 22:2). Nama Sara tidak muncul dalam pasal ini dan kita jarang menyebut dan membahasnya. Tapi dia pasti tahu apa yang terjadi. Dia mungkin memolong mempersiapkan perjalanan itu. Dia melihat kayu, api, pisau; dia melihat Ishak, dan dia melihat Abraham, kerutan penderitaan batin terpancar didahi. Tapi dia tidak melihat hewan korban. Alkitab berkata bahwa Abraham percaya kalau Tuhan bisa membangkitkan Ishak dari kematian (Ibr 19:19). Sara pasti percaya itu juga.

Dia menyaksikan mereka menghilang dari pandangan, dan walau hati keibuannya hancur, dia tidak protes. Itu mungkin penunjukan imannya pada Tuhan dan ketaatan pada kehendak suami yang terbesar. " Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai di tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman" (1 Pet 3:5-6). Seorang istri Kristen tidak perlu takut untuk taat saat harapannya ada dalam Tuhan. Dia pasti setia pada perkataanNya dan menggunakan ketaatannya untuk mencapai apa yang terbaik baginya.

Sara merupakan salah satu wanita yang dibicarakan Raja Lemuel, yang berlaku baik pada suaminya dan tidak jahat pada masa hidupnya (Ams 31:12). Seorang wanita hanya bisa jadi istri seperti itu saat dia percaya bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah, dan saat dia percaya Tuhan bisa menggunakan bahkan kesalahan suaminya untuk membawa kemuliaan bagi diriNya dan berkata bagi hidup mereka. Dan seorang pria bisa mendapat ketaatan istri seperti itu saat dia belajar mengikuti arahan Tuhan daripada mengejar tujuannya yang egois, Dia tahu kalau mereka tidak punya kemampuan untuk menjamin kedudukan kepemimpinannya. Itu hanya diberikan Tuhan. Jadi dia menerima kepercayaan itu dan melakukannya dalam ketaatan penuh pada Tuhan dan dengan tidak egois mempertimbangkan istrinya dan apa yang terbaik bagi istrinya.



Sumber : Bible.org




Kamis, 06 April 2017

Sebuah Penantian...

Mungkin kisah hidupku tidak seindah cerita tentang Cinderella yang menemukan pangeran tampannya, atau tidak juga seromantis kisah Romeo dan Juliet yang rela berkorban demi pasangannya. Namun, ketika aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan Tuhan, Dia membuat perjalanan hidupku indah pada waktunya. Inilah sepenggal kisah perjalanan hidupku yang ingin kubagikan kepadamu.

Dilahirkan di keluarga Kristen bukan berarti aku menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Sekalipun pada waktu SMP aku memutuskan untuk memberi diri dibaptis, aku belum sepenuhnya menghidupi iman percayaku. Aku baru mengalami lahir baru seutuhnya saat aku duduk di bangku kuliah dan belajar untuk aktif melayani Tuhan.

Ketika Tuhan mengizinkan tragedi terjadi di hidupku

Aku pikir setelah aku menerima Tuhan Yesus seutuhnya maka kehidupanku akan bertambah baik, tetapi kenyataan berkata lain. Aku harus kehilangan ayah yang dipanggil kembali kepada Tuhan di surga. Kehilangan sosok ayah membuat ekonomi keluarga kami terguncang sehingga ibu memutuskan untuk bekerja merantau ke luar negeri. Masalah tidak berhenti sampai di situ, adikku pun terjerat dalam narkoba hingga harus mendekam di penjara.

Saat itu aku sedang menempuh kuliah dan merasa begitu tertekan. Aku tidak tega melihat keadaan keluargaku yang seperti ini dan aku pun bertanya pada Tuhan, “Kenapa semua ini terjadi saat aku sudah menyerahkan hidupku untuk-Mu, Tuhan?” Tapi aku bersyukur karena ibuku tetap tegar. Dia bekerja sekuat tenaga di luar negeri untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga kami.

Setelah lulus kuliah aku pun bekerja untuk membantu ibu mencukupi kebutuhan keluarga. Aku begitu bersemangat untuk bekerja hingga tidak menyadari kalau usiaku ternyata telah menginjak angka 30 tahun dan aku belum pernah sekalipun berpacaran! Lama-lama aku merasa stres karena banyak anggota keluarga yang selalu bertanya kepadaku, “Kapan kamu menikah?”

Saat aku mulai mencoba membuka diri untuk siap menjalin relasi, ada seorang temanku yang mengenalkanku dengan seorang pria. Singkat cerita kami saling berkenalan dan berteman. Tapi aku sendiri tidak yakin kalau dia adalah orang yang tepat buatku sekalipun kami sama-sama orang Kristen.

Suatu ketika dia bertanya kepadaku, “Apakah kamu lebih memilih apa kata Tuhan atau kata hatimu?” Aku pun menjawabnya kalau aku tentu lebih memilih apa kata Tuhan. Aku sendiri pun tidak tahu apa alasan dia bertanya seperti itu kepadaku. Semenjak saat itu perlahan dia mulai menghilang dariku dan terakhir kali kulihat dia telah bersama perempuan lain.

Sejujurnya walau saat itu kami masih hanya berstatus teman, tetapi aku merasa sakit hati karena dia meninggalkanku begitu saja. Ketika aku berdoa dan menangis kepada Tuhan, Roh Kudus mengingatkanku untuk taat dan berserah.

Sebuah pertemuan tidak terduga

Lambat laun aku mampu menjalani kehidupanku seperti biasa dan tidak terlalu berfokus memikirkan tentang pasangan hidup. Hingga aku tiba pada suatu kesempatan yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Suatu ketika di awal bulan Maret 2015 aku sedang berbelanja di sebuah supermarket dan bertemu dengan seorang teman SMA yang sudah 12 tahun tidak bertemu. Dulu kami tidak saling mengenal dan yang aku tahu kalau temanku itu adalah anak yang populer di sekolah karena dia adalah ketua OSIS dan setahuku dia juga disukai banyak teman-teman perempuan.

Aku pikir pertemuan itu hanya sebatas pertemuan biasa, tetapi di bulan Juli 2015 kami mulai lebih sering mengobrol. Kami berusaha saling mengenal satu sama lain hingga aku pun mengetahui kalau temanku itu sudah menjadi orang Kristen yang lahir baru. Saat kami sudah menjadi teman akrab, di bulan Oktober 2015 kami memutuskan untuk berpacaran. Kami pun meminta bimbingan dari kakak rohani di gereja untuk membimbing hubungan ini.

Kami berkomitmen untuk menjunjung tinggi kekudusan dalam hubungan kami. Kami hanya berpegangan tangan kalau diperlukan. Kami juga saling menguatkan, saling mengisi, saling menegur kalau kami salah. Bagiku kekudusan itu sangat penting. Aku memiliki komitmen kalau ciuman pertamaku nanti adalah ketika kami berada di altar gereja dalam pemberkatan pernikahan kami.

Saat ini kami berdua melayani kaum muda di gereja kami berjemaat. Kami mengajarkan adik-adik kami untuk menjaga kekudusan dan menggunakan masa muda mereka untuk melayani Tuhan yang adalah Raja segala raja. Di samping bekerja dan melayani, saat ini kami juga sedang mempersiapkan untuk memasuki perjalanan baru dalam hidup kami berdua. Ya, kami akan menikah di bulan Oktober 2017 nanti.  Kami percaya Tuhan yang mempertemukan kami berdua, Dia juga yang akan menyiapkan semuanya.

Rancangan Tuhan adalah yang terbaik

Setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupku, entah itu baik ataupun buruk semuanya ditenun oleh Tuhan menjadi sesuatu yang indah. Tragedi yang terjadi di masa awal aku mengikut Tuhan itu membawaku pada suatu dilema, apakah aku mau tetap berserah kepada Tuhan dan menata hidupku atau menyesali keadaan dan mencari pelarian lain.

Lambat laun Tuhan mulai memulihkan keluargaku. Secara ekonomi perlahan kami bisa lepas dari jerat hutang dan adikku yang dulu pernah terlibat narkoba pun kita sudah terbebas dari segala jenis kecanduan.  Aku telah merasakan pengalaman kalau pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan aku tidak pernah menyesal karena menyerahkan hidupku kepada-Nya.

Pengalaman hidup yang telah kualami itu mengingatkanku bahwa setiap kita dilahirkan di dunia ini untuk memenuhi tujuan Tuhan. Tapi, seringkali kita menjauh dari tujuan itu karena kita “bingung” dengan urusan sendiri. Kita khawatir dengan banyak hal. Makan apa hari ini? Kerja di mana nanti? Kapankah pasangan hidup itu ditemukan?  Dan banyak kekhawatiran lain.

Lewat kesaksian ini aku ingin mendorong teman-teman agar tidak pernah ragu memberikan masa muda kita kepada Tuhan. Kita tidak perlu khawatir tentang siapa yang menjadi pasangan hidup kita ataupun bagaimana masa depan kita kelak. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan menjamin hidup kita. Apapun yang kita letakkan di bawah kaki-Nya tidak pernah sia-sia.


“Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:4) 

Kamis, 28 Januari 2016

1. " Bulan Madu Sudah berakhir " - Kisah Adam dan Hawa

Bulan madu merupakan waktu yang manis, kata itu sendiri menggambarkan hal itu. Istilah itu menggambarkan keindahan saat-saat awal pernikahan yang paling manis dan memuaskan. Tapi itu tidak selalu begitu. Tuhan ingin agar pernikahan kita sejalan dengan waktu semakin baik. Setiap bulan seharusnya lebih manis dan memuaskan dari bulan sebelumnya. Sayangnya, sebagian pernikahan terjadi seperti itu "bulan pertama merupakan yang terbaik, dan mulai dari situ semuanya menurun. Mungkin kita bisa membalikkan trend itu dengan melihat ke dalam Fiman Tuhan.

Alkitab tidak secara spesifik mengatakan demikian, tapi saya punya perasaan kalau bulan madu Adam dan Hawa lebih dari sebulan.

Hanya Tuhan yang tahu berapa bulan atau tahun kenikmatan yang terdapat antara Kejadian pasal 1 sampai 3. Tapi tidak ada hubungan manusia yang melebihi kebahagiaan dan sukacita hubungan mereka. Itu jelas, merupakan pernikahan yang sempurna.

Pertimbangkan sebentar. Jika setiap pernikahan dibuat disorga, seperti ini. Itu dengan sempurna direncanakan dan dengan sempurna dilaksanakan oleh Tuhan yang sempurna. Pertama, DIA membuat Adam (Kej 2:7). Di buat oleh Pencipta Agung, Adam jelas tidak memiliki kekurangan. Dan dia dibuat sesuai gambar dan rupa Allah (Kej 1:27). Itu berarti dia memiliki kepribadian seperti Allah-kepintaran yang sempurna, emosi, dan kehendak. Dia memiliki emosi yan sempurna, termasuk kebaikann dan kasih yang seluruhnya tidak egois, Kasih Tuhan sendiri. Dan dia memiliki kehendak yang sepenuhnya selaras dengan kehendak penciptanya. Para wanita, bukankah kalian ingin mendapatkan pria seperti ini? Secara fisik, mental, emosi, dan rohani sempurna!
Tapi mari saya ceritakan tentang Hawa. "Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu." (Kej 2: 21-22). Adam tentu melihat Hawa dengan kekaguman dan penghargaan. Ini ciptaan Tuhan yang sempurna, keindahan yang luar biasa, kasih dan bentuk yang murni. Didandani melalui tangan Tuhan sendiri, Hawa pasti merupakan makhluk paling cantik yang pernah ada dibumi. Dan seperti Adam, dia dibuat dalam gambar dan rupa Tuhan, Pikirannya, emosi dan kehendak tidak terhalang dosa. Pria mana yang tidak mau wanita seperti itu?
Adam langsung mengenali kesamaan dengan dirinya, Dia berkata "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan,sebab ia diambil dari laki-laki." (Kej 2:23). Tanpa pernyataan khusus dari Tuhan, Adam secara insting mengetahui Hawa dibuat untuknya; dia bagian dari dirinya; dia sepadan; dia merupakan pasangannya. Dia memanggil wanita itu, "manusia perempuan", dia mendekat padanya dalam kasih. Dia mengakhiri kesepian Adam dan memenuhi hidup Adam dengan sukacita. Dia tepat seperti yang diinginkan Adam. Dan tidak ada yang lebih memuaskan Hawa daripada kepastian bahwa suaminya benar-benar membutuhkannya. Betapa luar biasa kesukacitaan yang mereka dapat dalam pasangannya! Betapa mereka saling mengasihi!
Rumah mereka terletak di Eden, tempat yang sempurna (Kej 2:8). Kata Eden berarti "menyenangkan" dan memang benar-benar menyenangkan. Di airi dengan baik dari ke empat sungai, Eden merupakan surga yang menyenangkan, dibungkus dengan keindahan dan tumbuhan (Kej 2:9-10). Mereka membangun tanah itu, tapi saat itu mereka tidak punya tanaman berduri atau rumput liar untuk dibuang, pekerjaan mereka benar-benar menyenangkan. Saling membantu mereka hidup dan bekerja dalam harmoni, berbagi rasa saling ketergantungan, menikmati kebebasan persekutuan dan komunikasi, memiliki kasih sayang yang saling mengikat. Mereka tidak terpisahkan.
Oh, disana juga ada tingkatan otoritas dalam hubungan mereka. Adam dibentuk pertama, kemudian Hawa, seperti kata Paulus (1 Tim 2:13). Dan Hawa dibuat untuk Adam, bukan Adam untuk Hawa, juga seperti kata Paulus (1 Kor 11:9). Tapi Hawa merupakan penolong Adam (Kej 2:18), dan untuk menjadi penolong yang efektif Hawa harus membagi hidup dengan dia. Hawa bersama dengan Adam saat Tuhan memberikan perintah untuk memenuhi bumi dan menguasainya, karena itu dia berbagi tanggung jawab yang besar dengan suaminya (Kej 1:28). Hawa melakukan apapun sebagai penolong. Dia membantu Adam, mendorong, menasihati, dan menginspirasikan dia, dan Hawa melakukannya dengan rasa tunduk pada suaminya. Adam tidak pernah marah atas pertolongan Hawa, juga nasihatnya. Karena untuk itulah Hawa diberikan Tuhan padanya. Juga Hawa tidak pernah merasa terhina karena kepemimpinannya. Perilaku Adam tidak pernah cacat karena superioritas atau eksploitasi. Kenapa bisa begitu? Karena kasihnya sempurna. Hawa merupakan seorang yang special bagi dia dan Adam memperlakukannya seperti itu. Dia tidak pernah merasa cukup menyatakan rasa terima kasihnya kepada Hawa dan dia tidak pernah perpikir mendapat balasan. Hawa jelas tidak marah dengan kepemimpinan seperti itu.

Firman Tuhan berkata : "Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu" (Kej 2:25).Itu merupakan hubungan yang sempurna dan murni. Tidak ada dosa didalamnya. Tidak ada pertengkaran diantara mereka. Mereka ada dalam damai bersama Tuhan, damai dengan diri mereka, dan damai dengan pasangannya. Ini merupakan pernikahan yang sempurna. Ini surga. Betapa kita ingin berlangsung terus, agar kita bisa merasakan tingkatan pernikahan yang sama. Tapi sesuatu terjadi. Alkitab membawa kita, pada hal kedua, jalan masuk ke dosa. Tidak diragukan kalau yang mencobai Hawa adalah setan menggunakan bentuk ular (bd. Wahyu 12:9). Pendekatan pertamanya adalah mempertanyakan Firman Tuhan, dia berkata, "Tentulah Allah berfirman : "semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan" (Kej 3:1). Setelah mempertanyakan Firman Tuhan, dia menyangkalnya: "Sekali-kali kamu tidak akan mati!"katanya (Kej 3:4). Akhirnya, dia membengkokkan FirmanNya : "Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kej 3:5).
Mereka pasti menjadi jahat, tapi mereka tidak bisa jadi Allah. Kenyataannya berbeda. Keserupaan dengan Tuhan yang mereka nikmati hancur. Metode setan tidak berubah sampai saat ini. Kita mengenalnya dengan baik-keraguan, pemutarbalikkan, penyangkalan. Tapi kita juga jatuh didalamnya. Kita bisa seperti Hawa dalam kelemahannya. Kita tahu bagaimana menyerah pada cobaan.
Setan menggunakan pohon pengetahuan yang baik dan jahat untuk melakukan pekerjaan jahatnya. Tuhan menempatkan pohon itu sebagai simbol tunduknya Adam dan Hawa padaNya (Kej 2:17). Tapi setan sering menggunakan hal baik untuk menggoda kita menjauh dari kehendak Tuhan. "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya." (Kej 3:6). Apakah anda memperhatikan Hawa dicobai dalam 3 wilayah utama yang didaftar dalam 1 Yoh 2:16 ? (1) Keinginan daging - "untuk makan" (2) Keinginan mata - "kepuasan mata" (3) Keangkuhan hidup - "sombong". Ini juga wilayah utama yang setan gunakan untuk menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama -- Keinginan untuk memuaskan kedagingan kita, keinginan medapatkan materi, dan keinginan untuk membuat orang kagum dengan diri kita.
Daripada lari dari cobaan seperti yang dinasihatkan Alkitab kepada kita kemudian, Hawa bermain-main dengannya. Dia sudah memliki semua yang ingin didapat manusia dalam hidup, tapi dia berdiri disana dan mengijinkan pikirannya merenungkan hal yang tidak boleh sampai situ merasukinya dan membawa bulan madunya menjadi hancur. Kejahatan seperti itulah yang sudah menghancurkan banyak bulan madu selanjutnya. Para suami sering menghabiskan uang untuk hal-hal sekunder seperti mobil, hobi, pakaian. Para istri sering mendorong suami untuk menghasilkan lebih banyak uang agar mereka bisa mendapatkan hal yang lebih besar, baik, dan mahal. Dan kepemilikkan materi dalam dunia ini menanamkan batas diantara mereka. Saat kita mengijinkan pikiran kita mengidolakan materi, Tuhan menyebutnya penyembahan berhala (Kolose 3:5). Dan Dia memohon agar kita lari hal itu : "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!" (1 Kor 10:14).
Hawa tidak lari. "Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya" (Kej 3:6). Teksnya tidak jelas, tapi perkataan "dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia" menunjukkan kalau Adam menyaksikannya. Kita tidak tahu kenapa Adam tidak menghentikan Hawa, atau kenapa dia tidak menolak mengikuti keberdosaan Hawa. Tapi kita tahu kalau dia sudah gagal terhadap Hawa dalam hal ini. Dia mengabaikan untuk memberikan kepemimpinan rohani yang Tuhan ingin dia sediakan, dan sebaliknya membiarkan Hawa memimpinnya kedalam dosa. Betapa besar pengaruh wanita atas pria! Hawa bisa menggunakannya untuk menantang Adam dalam hal pencapaian rohani, atau Hawa juga bisa menggunakannya untuk menyeret Adam ke dalam rasa malu. Tuhan memberikan Hawa kepada Adam sebagai penolong, tapi ketamakan hatinya telah menghancurkan Adam.
Bersama-sama mereka menunggu kesenangan akan kedatangan hikmat ilahi yang dijanjikan setan. Sebaliknya, rasa bersalah dan malu luar biasa menyelimuti mereka. Roh mereka mati saat itu juga (Kej 2:17), dan tubuh fisik mereka memulai proses yang lambat laun membusukkan karya Tuhan yang indah dan mengakhirinya dengan kematian fisik. Rasul Paulus berbicara tentang ini, "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa iu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa." (Roma 5:12). Itulah dosa. Menjanjikan banyak menghasilkan sedikit. Menjanjikan kebebasan, hikmat, dan kebahagiaan, tapi membawa perbudakan, bersalah, rasa malu, dan kematian.
Tiba-tiba ketelanjangan mereka menjadi simbol keberdosaan mereka (Kej 3:7). Itu membuka diri mereka terhadap mata Tuhan. Mereka mencoba menutupi tubuh mereka dengan daun, tapi itu tidak cukup. Tuhan kemudian menunjukkan bahwa satu-satunya cara menutupi dosa melalui darah yang tercurah (Kej 3:21, Im 17:11, Ibr 9:22).
Itu akhirnya membawa kita kepada kematian. Dosa ditemani oleh akibat yang menghancurkan apakah kita ingin atau tidak. Adam menyalahkan hal ini pada Hawa dan Tuhan: "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka ku makan" (Kej 3:12). Hawa berkata ular yang memaksanya (Kej 3:13). Dengan cara yang sama kita mencoba menyalahkan masalah pernikahan pada orang lain. "Jika dia berhenti mengeluh saya bisa...", "jika dia lebih pengertian saya bisa..." Tapi Tuhan melihat mereka berdua bertanggung jawab, seperti kita juga. Dan hal biasa menyalahkan yang lain. Tuhan ingin kita menghadapinya, bukan menghindarinya.
Akibatnya lebih dari yang dosa ditanggung Adam dan Hawa. Bagi Hawa kesakitan melahirkan merupakan pengingat akan dosanya. Disamping itu, dia mengalami kerinduan pada suami yang sangat, keinginan untuk waktunya, perhatian, kasih sayang, dan kepastian. Kebutuhannya sangat besar sehingga suaminya yang juga berdosa jarang bisa menemuinya.

Dan akhirnya, otoritas yang dimiliki Adam dan Hawa dari sejak penciptaan dikuatkan melalui aturan "ia akan berkuasa atasmu" (Kej 3:16). Ditangan manusia berdosa, aturan itu menjadi semakin keras atasnya---mengabaikan perasaaan dan pendapatnya. Hawa jelas menderita atas dosanya sehingga Adam terbawa jauh darinya, lebih sedikit perhatian, dan di sibukkan dengan hal lain. Kepahitan, kekecewaan, dan pemberontakan  mulai terbangun dalam jiwanya. Bagi Adam, mengusahakan tanah menjadi tidak ada akhirnya, sulit. Kekhawatiran akan kemampuannya menyediakan kebutuhan keluarga menambah kejengkelan dan kurang simpatik pada kebutuhan istrinya. Sebagai hasilnya, konflik masuk kedalam keluarga. Dosa selalu membawa ketegangan, perselisihan dan konflik. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Adam dan Hawa saat mereka berdiri disamping kuburan pertama dalam sejarah manusia. Anak mereka yang kedua meninggal karena pertengkaran diantar keluarga. Bulan madu sudah berakhir!

Ini mungkin cerita yang paling menyedihkan yang pernah diceritakan. Kepada setan Tuhan berkata, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kej 3:15). Tuhan berjanji keturunan wanita, anak yang dilahirkan, akan menghancurkan pekerjaan iblis, termasuk kehancuran yang dibuatnya pada keluarga. Inilah nubuat pertama tentang datangnya penebus. Dan sekarang Dia sudah datang!
Dia telah mati bagi dosa manusia. Darah-Nya yang sempurna merupakan korban yang memuaskan untuk dosa manusia yang percaya pada-Nya. Dia menawarkan pengampunan dengan gratis dan memulihkan kita denganNya. Dan Dia memberikan kita kekuatan dari-Nya untuk hidup dalam dosa. Dia juga bisa menolong kita mengatasi akibat dosa dalam hubungan pernikahan kita. Dia bisa memberikan pada suami kasih dan kebaikan yang sama seperti Adam dan Hawa sebelum berdosa. Dia bisa memberikan pada istri kemampuan menolong dan tunduk pada suami seperti Hawa pada Adam sebelum kejatuhan. Dengan kata lain, bulan madu bisa dimulai lagi. Tapi pertama, kita harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dari dosa. Tidak ada harapan bagi hubungan pernikahan sampai keduanya memiliki kepastian pengampunan dan penerimaan oleh Tuhan. Kepastian itu hanya bisa dialami saat kita mengakui dosa kita dan percaya pada Kristus yang berkorban di Kalvari untuk menyelamatkan dari hukuman kekal karena dosa kita.

Jika ada keraguan, putuskan sekarang. Dalam kesungguhan dan ketulusan, berdoa seperti ini: "Tuhan, saya mengakui dosa dihadapan-Mu. Aku percaya bahwa Yesus Kristus mati untuk menyelamatkanku dari dosa, hukuman dosa dan perbudakan dosa dalam hidupku. Saya percaya Dia sebagai Juruselamat dan menerima-Nya ke dalam hidupku. Terima kasih Tuhan Yesus, karena sudah datang dalam hidupku dan mengampuni dosaku." Saat anda sudah mengambil keputusan itu, jalan sudah dibuka bagi Tuhan untuk memenuhi hatimu dengan kebaikan dan kasih-Nya, mengambil keegoisan dan kekerasan hatimu, dan memberikanmu perhatian yang mau berkorban bagi kebutuhan pasanganmu. Dan anda akan menikmati rasa surga.


Sumber : Bible.org 



Selasa, 24 November 2015

Bersepeda dengan Yesus


Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan di masukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesu, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi? biasanya, hal itu tidak berlangsung lama. Tetapi saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!

Terkadang rasanya seperti sesuatu yang "gila", tetapi Ia berkata "Ayo kayuh terus pedalnya!!"
Aku takut, khawatirdan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil mengenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan. Orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan, Perjalananku bersama Tuhanku. Lalu kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian Yesus berkata "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita. Maka, aku pun melakukannya, aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepada-Nya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh sambil menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama sahabatku yang setia : Yesus Kristus

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata : Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."


Yesus memberkati... :)

Senin, 02 November 2015

Aku masih disini bersamamu...

Yesaya 43 : 18-19
18 Firman-Nya : "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!"
19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

Mazmur 32 : 8
8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-ku tertuju kepadamu.


Anak-Ku...
kau mungkin lelah... kau mungkin mulai ragu untuk melangkah karena kegagalan yang kau alami...

Tapi lihat kembali, sampai sejauh ini kau melangkah... Aku tak pernah meninggalkanmu...
Sekalipun seringkali kau berjalan dengan caramu dan dengan kekuatanmu... Aku masih disini bersamamu...

Anak-Ku...
Kegagalanmu bukanlah akhir dari segalanya...
Aku tak kan pernah menyerah denganmu...

Bisakah kau mempercayai-Ku?
Bisakah kau mempercayai semua mimpi yang telah Aku taruh padamu akan menjadi kenyataan?

Teguhkanlah hatimu...
Aku tahu ini perjalanan yang panjang...
Tapi perjalanan ini akan begitu dapat kau nikmati dalam segala keadaan karena Aku bersamamu..

Aku tahu ada saatnya kau akan menangis...
Aku masih disini bersamamu...
Ada saatnya kau lelah...
Aku masih disini bersamamu... menjadi penghibur dan tempat peristirahatanmu...

Aku yang akan membuka jalan bagimu...
Aku hanya ingin kau tak pernah menyerah...
Tujuh kali kau jatuh delapan kali kau harus bangkit...

Anak-ku...
Aku Mengasihimu...
Aku Menyertaimu...
Jangan terlalu banyak berpikir...
Berjalan saja...
Kau tak sendirian...




Kamis, 10 September 2015

Just Believe...

Memasuki usia 30 tahun cukup membuat saya di bayang-bayangi oleh ketakutan, Maklum sampai saat ini saya belum menemukan orang yang tepat untuk mengarungi hidup ini bersama-sama. Entah karena saya memiliki standart pasangan yang terlalu tinggi ato karena saya kurang membuka diri dengan teman-teman lelaki saya. Pernah suatu saat ada seorang laki-laki yang pendekatan dengan saya, kemudian laki-laki tersebut mengajukan pertanyaan yang cukup membuat saya bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan itu mengharuskan saya untuk memilih antara  melakukan kehendak Tuhan dalam hidup saya ato lebih memilih rasa "cinta" ini untuk memiliki pasangan. Waktu menjawab pertanyaan tersebut secara spontan saya mengatakan bahwa saya lebih memilih kehendak Tuhan dalam hidup saya. Sebagai manusia biasa saya tidak tahu apa yang saya katakan tadi, jujur dalam hati saya saya menginginkan orang tersebut menjadi pasangan hidup saya tapi saya tahu itu bukan kehendak Tuhan dalam hidup saya.

Sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap yang tegas terhadap kehendak Tuhan dalam hidup kita. Meskipun terkadang kehendak Tuhan sangat bertolak belakang dengan semua keinginan-keinginan kita namun kita harus percaya bahwa kehendak-Nya adalah sempurna bagi kita. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak ALLAH : apa yang baik, yang berkenan kepada ALLAH dan yang sempurna". (Roma 12:2)

Memang tidak mudah hidup dalam kehendak-Nya. Tapi sadar ato tidak kita dipanggil itu semua karena kasih karunia-Nya semata bukan dengan kuat gagah kita. " Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh IMAN; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian ALLAH, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri". (Efesus 2:8-9) Dengan kasih karunia itu juga kita dimampukan untuk tetap berjalan dalam kehendak-Nya yang sempurna,

Mari kita sama - sama belajar mengenal kehendak-Nya dalam hidup kita baik itu tentang pasangan hidup, pekerjaan, keluarga dan berbagai aspek dalam kehidupan kita. Hanya karena KASIH KARUNIA-NYA kita ada sampai saat ini dan dengan KASIH KARUNIA-NYA juga kita dapat berjalan dalam kehendak-Nya yang SEMPURNA.