Selasa, 24 November 2015

Bersepeda dengan Yesus


Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan di masukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesu, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi? biasanya, hal itu tidak berlangsung lama. Tetapi saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!

Terkadang rasanya seperti sesuatu yang "gila", tetapi Ia berkata "Ayo kayuh terus pedalnya!!"
Aku takut, khawatirdan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil mengenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan. Orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan, Perjalananku bersama Tuhanku. Lalu kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian Yesus berkata "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita. Maka, aku pun melakukannya, aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepada-Nya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh sambil menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama sahabatku yang setia : Yesus Kristus

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata : Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."


Yesus memberkati... :)

Senin, 02 November 2015

Aku masih disini bersamamu...

Yesaya 43 : 18-19
18 Firman-Nya : "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!"
19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

Mazmur 32 : 8
8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-ku tertuju kepadamu.


Anak-Ku...
kau mungkin lelah... kau mungkin mulai ragu untuk melangkah karena kegagalan yang kau alami...

Tapi lihat kembali, sampai sejauh ini kau melangkah... Aku tak pernah meninggalkanmu...
Sekalipun seringkali kau berjalan dengan caramu dan dengan kekuatanmu... Aku masih disini bersamamu...

Anak-Ku...
Kegagalanmu bukanlah akhir dari segalanya...
Aku tak kan pernah menyerah denganmu...

Bisakah kau mempercayai-Ku?
Bisakah kau mempercayai semua mimpi yang telah Aku taruh padamu akan menjadi kenyataan?

Teguhkanlah hatimu...
Aku tahu ini perjalanan yang panjang...
Tapi perjalanan ini akan begitu dapat kau nikmati dalam segala keadaan karena Aku bersamamu..

Aku tahu ada saatnya kau akan menangis...
Aku masih disini bersamamu...
Ada saatnya kau lelah...
Aku masih disini bersamamu... menjadi penghibur dan tempat peristirahatanmu...

Aku yang akan membuka jalan bagimu...
Aku hanya ingin kau tak pernah menyerah...
Tujuh kali kau jatuh delapan kali kau harus bangkit...

Anak-ku...
Aku Mengasihimu...
Aku Menyertaimu...
Jangan terlalu banyak berpikir...
Berjalan saja...
Kau tak sendirian...




Kamis, 10 September 2015

Just Believe...

Memasuki usia 30 tahun cukup membuat saya di bayang-bayangi oleh ketakutan, Maklum sampai saat ini saya belum menemukan orang yang tepat untuk mengarungi hidup ini bersama-sama. Entah karena saya memiliki standart pasangan yang terlalu tinggi ato karena saya kurang membuka diri dengan teman-teman lelaki saya. Pernah suatu saat ada seorang laki-laki yang pendekatan dengan saya, kemudian laki-laki tersebut mengajukan pertanyaan yang cukup membuat saya bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan itu mengharuskan saya untuk memilih antara  melakukan kehendak Tuhan dalam hidup saya ato lebih memilih rasa "cinta" ini untuk memiliki pasangan. Waktu menjawab pertanyaan tersebut secara spontan saya mengatakan bahwa saya lebih memilih kehendak Tuhan dalam hidup saya. Sebagai manusia biasa saya tidak tahu apa yang saya katakan tadi, jujur dalam hati saya saya menginginkan orang tersebut menjadi pasangan hidup saya tapi saya tahu itu bukan kehendak Tuhan dalam hidup saya.

Sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap yang tegas terhadap kehendak Tuhan dalam hidup kita. Meskipun terkadang kehendak Tuhan sangat bertolak belakang dengan semua keinginan-keinginan kita namun kita harus percaya bahwa kehendak-Nya adalah sempurna bagi kita. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak ALLAH : apa yang baik, yang berkenan kepada ALLAH dan yang sempurna". (Roma 12:2)

Memang tidak mudah hidup dalam kehendak-Nya. Tapi sadar ato tidak kita dipanggil itu semua karena kasih karunia-Nya semata bukan dengan kuat gagah kita. " Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh IMAN; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian ALLAH, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri". (Efesus 2:8-9) Dengan kasih karunia itu juga kita dimampukan untuk tetap berjalan dalam kehendak-Nya yang sempurna,

Mari kita sama - sama belajar mengenal kehendak-Nya dalam hidup kita baik itu tentang pasangan hidup, pekerjaan, keluarga dan berbagai aspek dalam kehidupan kita. Hanya karena KASIH KARUNIA-NYA kita ada sampai saat ini dan dengan KASIH KARUNIA-NYA juga kita dapat berjalan dalam kehendak-Nya yang SEMPURNA.